Waktu aku tanya Emak; “Mak, ke Eropa pengen kemana aja?”. Emak pun menjawab;”ke stadion sepak bola Allianz arena sama menara Eiffel trus lihat bunga tulip di Belanda, sisanya terserah.” Catat, berarti Munich wajib ya! Aku agak bingung waktu mendengar permintaan emak ke stadion Allianz arena (stadion sepak bola tim Bayern), karena setau aku emak nggak begitu suka bola. LOL! Tapi yasudahlah inikan perjalanan si Emak.

Allianz arena

Dibandingkan dengan Berlin, Munich termasuk kota lumayan mahal. Harga standar hotel di Munich aja minimal 80€ dipusat kota, untuk harga 37€ kamarnya kayak kamar penjara. Airbnb? Hmm, dinilai dari segi lokasi dan fasilitasnya harga kurang worth it. Opsi terakhir Couchsurfing! Whoopp! Ngajakin orang tua Couchsurfing? Yakin? Kenapa enggak sih buat menghemat pengeluaran dan memperkenalkan emak budaya Eropa lebih dalam.

Yupp! Kalau kalian ingin melihat kultur kehidupan orang lokal, Airbnb dan Couchsurfing adalah sarana yang tepat sebagai pilihan akomodasi. Bedanya Couchsurfing dengan Airbnb adalah;

Couchsurfing, situs web traveler, dimana kalian bisa berpartisipasi untuk menawarkan akomodasi bermalam atau mencari akomodasi secara cuma-cuma. Wow, akomodasi secara cuma-cuma, enak banget tuh! Iya dong enak, tapi yang harus kalian ketahui tujuan ber-Couchsurfing adalah saling bertukar kultur, pemikiran dan memperluas koneksi sesama traveler, yang dimana kalian harus mempunyai waktu untuk tuan rumah(host). Jadi bukan cuma tidur, jalan-jalan, sampai rumah mandi, terus sibuk upload foto, kalian harus tahu tata krama dan punya waktu untuk ngobrol dengan tuan rumah. Positifnya menggunakan Couchsurfing, kalian bisa tahu bagaimana kehidupan sehari-hari orang lokal dan pola pikir mereka. Bahkan tidak jarang si-tuan rumah akan menjadi guide lokal kalian.

Airbnb, situs web dimana kalian bisa menyewakan/menyewa kamar/apartment yang sifatnya komersial. Di situs web ini kalian tidak menyewa kamar di hotel (walaupun ada beberapa hotel yang menggunakan website Airbnb) namun tinggal bersama orang lokal. Perbedaannya dengan Couchsurfing, kalian lebih mempunyai privasi dan waktu untuk kalian sendiri. Dan terkadang kalian juga bisa meminta rekomendasi lokal(sistem transportasi, rekomendasi restoran dan tempat-tempat yang wajib kalian kunjungi di kota tersebut) dari si tuan rumah.

Sebelum kalian berkunjung ke Eropa ada baiknya kalian membaca bagaimana cara mereka makan, mandi, mengunakan toilet, dll. Hal-hal tersebut memang terdengar spele, namun sebagai tamu kalian harus menjaga sikap dan tingkah laku. Dalam segi makanan, kebanyakan orang Eropa makan besar satu kali sehari dan mereka akan kurang suka jika kalian masak yang menimbulkan bau berlebihan (sperti masak pakai terasi atau kebanyakan bawang putih, LOL). Mandi; kamar mandi orang Eropa merupakan kamar mandi kering, bukan mandi dengan gayung yang airnya bisa belepotan kemana-mana dan gunakanlah air secukupnya. Dalam menggunakan toilet, orang Eropa tidak menggunakan air untuk membersihkan kotoran, melainkan kertas tisu. Aku tahu buat kebanyakan orang Indonesia akan risih jika hanya menggunakan kertas tisu dan kebanyakan dari kalian pasti akan membawa botol berisi air untuk cebok, LOL! Nggak masalah tapi jangan sampai belepotan ya, kebersihan dalam menggunakan toilet harus kalian jaga. Dan…masih banyak lagi tapi nggak dramatis banget lah, intinya kalian harus tahu tatakrama.

Menurut aku Couchsurfing itu bukan hanya untuk anak muda backpackeran, tapi bisa juga untuk keluarga maupun orangtua, asal jangan rombongan se-RT aja request-nya. LOL. Cara aku menemukan tuan rumah (host) secara cepat dan tepat adalah dengan menspesifikasi filter dalam sistem pencarian.

Couchsurfing

 

Di dalam Couchsurfing filter, terdapat pilihan akomodasi ; aku pilih private room, kalau host punya private room sudah pasti mereka dianjurkan untuk keluarga. Dan untuk mendapatkan host lebih cepat, di kolom keywords aku masukan kata Indonesia. Dengan kedua spesifikasi tersebut sudah pasti kalian akan menemukan host yang cocok.

Pengalaman pertama Couchsurfing emak bisa dibilang sukses. Host kami merupakan pasangan traveler Jerman yang mempunyai blog bernama Weltenblummer Unterwegs . Franzi dan Chris menerima kami sebagai tamu karena mereka ingin menggali informasi untuk perjalan mereka keliling Asia tahun ini.

Pertama kali emak sampai di rumah host Couchsurfing, emak  terbengong melihat pin up peta dunia dan koleksi buku panduan jalan-jalan yang memenuhi rak buku mereka. “Kenapa orang luar bisa gila traveling seperti ini sih?” tanya emak. Aku cuma senyum dan menjawab, “karena traveling itu candu.”

Dari Couchsurfing emak benar-benar melihat bagaimana kehidupan orang Eropa sehari-hari. Di pagi hari sebelum menjelajahi kota Munich, Franzi mengajak kami untuk sarapan bersama, dari sini emak belajar kalau sarapan nggak harus selalu makan nasi. Setelah sarapan aku, emak dan Franzi menuju ke stasiun kereta, Franzi berangkat ke kantor, sedang aku dan emak akan berjalan-jalan di kota Munich. Tidak lama setelah berpisah dengan host kami, emakku pun menyeletuk, “orang Jerman sigap dan selalu tepat waktu ya. Sampai menit dan detik kapan kereta datang pun mereka sudah perhitungkan.” 🙂

Setelah seharian menjelajahi kota Munich, aku dan Emak memasak makan malam untuk Franzi dan Chris, sate ayam 🙂 Memasak makan malam bersama dengan tuan rumah merupakan penghematan dana tersendiri. Kami hanya membutuhkan beras dari supermarket dan daging ayam, sedangkan bumbu pecel yang emak bawa dari Indonesia kami jadikan sebagai bumbu sate.

Yah begitulah ringkasan cerita pengalaman emak ber-Couchsurfing, Cochsurfing untuk orang tua? Absolutely recommended! 🙂


Sewaktu menyusun rencana perjalanan dari Prague ke Munich, aku bersikeras untuk menggunakan kereta api sebagai alat transportasi. Mengetahui koneksi kereta negara Ceko, Slovakia dan Hungary termasuk murah, namun sayangnya Prague dan Munich tidak mempunyai koneksi yang bagus dan harganya cukup mahal. Pilihan yang paling tepat untuk transportasi kota Prague dan Munich adalah Bus. Dengan harga 19€ dan perjalanan ± 4 jam, kalian sudah mendapatkan bus dengan fasilitas WiFi dan tempat duduk yang nyaman. Tiket bus bisa kalian dapatkan di situs web IC Bus.

Agenda:

H5 : Nitipin koper di stasiun – Maxvorstadt area ( Alte Pinakothek, Glyptothek, Lenbachhaus, Museum Brandhorst, Neue Pinakothek, Pinakothek der Moderne dan Palaeontological Museum Munich) – Royal Court Garden – Odensplatz – Oldtown – Pulang ke rumah host couchsurfing

H6 : Dachhau – Oldtown – Englischer Garten – Allianz arena – Isirahat

H7 : Nitipin koper di stasiun – Neuschwanstein Castle – ambil koper di stasiun – lanjut ke Salzburg dengan Bayern tiket

Pukul 14:53 aku dan emak sampai di Munich HBF (stasiun utama kota Munich). karena rumah host couchdurfing kami lumayan jauh dan mereka baru berada di rumah setelah pukul 18.00. Aku dan emak menitipkan koper di loker penitipan koper yang berada di stasiun. Harga loker kecil 3€/24 jam dan yang besar 5€/24jam. Setelah menaruh koper di loker stasiun, kami berjalan bersama teman dari Indonesia yang tinggal di Munich dan sudah menunggu kami di stasiun.

Maxvorstadt

Tujuan pertama kami setelah membeli makan siang di sebuah restoran asia adalah Maxvorstadt, Maxvorstadt adalah kota bagian Munich yang terdapat berbagai macam museum seperti; Alte Pinakothek, Glyptothek, Lenbachhaus, Museum Brandhorst, Neue Pinakothek, Pinakothek der Moderne, Palaeontological Museum Munich, dll). Untuk keterangan lebih lengkap masing-masing museum bisa kalian lihat di sini.

Odeonsplatz

München, Ludwigstraße
München, Ludwigstraße

Jika kalian berjalan dari daerah Maxvorstadt ke Siegestor dan menyusuri Ludwigsstrasse, kalian akan menemukan Odeonsplatz. Odeonsplatz merupakan square/ alun-alun kota yang terletak disebelah utara Oldtown-nya Munich. Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di Odeonsplatz, salah satunya Kudeta yang dilakukan oleh Hitler. Theatinerkirche, gereja yang dibangun pada abad ke- 16 juga terdapat di Odeonsplatz.

Old town

Setiap kota di Eropa selalu (weitss, aku pakai rata-rata aja deh biar lebih aman) mempunyai bagian kota tua. Di Old town selalu terdapat square/alun-alun yang dikelilingi bangunan-bangunan bersejarah. Old town kota Munich lumayan luas dan  yang paling hitz dari Old town nya Munich adalah Mary’s square (Marienplatz). Di Marienplatz terdapat New hall & Glockenspiel, Glockenspiel adalah menara jam setinggi 280 kaki yang terpasang pada fasad bangunan New hall. Di Glockenspiel ini terdapat pertunjukan yang berlangsung selama 15 menit pada pukul 11.00, 12.00 dan pukul 17.00 (pada saat musim panas).

Tidak jauh dari Marienplatz terdapat Victuals Market (Viktualienmarkt), ini adalah pasar harian yang terletak tidak jauh dari Marienplatz yang buka setiap hari dari pukul 10.00 sampai sore hari. Di sini kalian bisa menemukan berbagai macam makanan tradisional Bayern. Oh ya, jika kalian menemukan tiang (maypole) berwarna biru garis-garis putih dan terdapat hiasan di kanan kirinya  itu merupakan tanda ikonik dari kota Munich. Konon katanya maypole merupakan lambang kesuburan dan keberuntungan.

Gereja paling cantik di Munich selain Theatinekirche menurutku adalah Saint Johann Nepomuk Church (Asamkirche). Asamkirche merupakan gereja kecil yang interiornya bergaya old barock yang didominasi oleh lapisan emas dengan ornamen yang sangat detail.

Hofbrauhaus
Emak di Hofbrauhaus

Dan…dan…masih banyak lagi yang bisa dilihat di Old town Munich, cukup dengan waktu seharian kalian bisa menikmati Old town Munich. Ah jangan lupa mengunjungi Hofbrauhaus restoran atau lebih dikenal sebagai beer hall, dimana Adolf Hitler memberikan pidato di depan khalayak banyak pada 19 Februari 1920. Hofbrauhaus ini selalu penuh dengan turis, aku dengan emak sih cuma masuk sebentar, ambil foto dan cabut.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, saatnya aku dan emak beranjak mengambil koper di stasiun dan pulang ke rumah host Couchsurfing yang sudah menunggu kami. 😀

Dachau

Dachau
Tempat tidur para tahanan di Dachau

Dachau terletak di area XXL Munich, tiket yang kami pakai pada hari kedua adalah XXL Grup seharga 15 € yang berlaku selama 24 jam. Dan untuk memasuki kamp konsentrasi tidak dipungut biaya sepeserpun, kecuali kalau kalian ingin menggunakan tour, opsi lain jika kalian lebih ingin bergerak bebas dan tidak terikat dengan grup, kalian bisa menyewa audio dengan harga 3,5€. Waktu yang dibutuhkan selama di Dachau kurang lebih setengah harian, setelah puas berada di Dachau kami kembali lagi ke pusat kota untuk melihat yang belum sempat kami kunjungi kemarin.

Englischer Garten

Di tengah kota Munich mempunyai area hijau yang cukup luas, namanya Englischer garten. Waktu pertama kali ke Munich, aku pernah jalan dari ujung ke ujung, LOL. Tapi kalau trip sama emak, bisa gempor beliau 😀 Jadi kami langsung menuju ke Chinesischer Turm, bangunan ini merupakan restoran berbentuk pagoda setinggi 25 meter. Di bawahnya kalian bisa menikmati bir dan Bretzel (roti khas bayern), bagi yang tidak meminum alkohol terdapat juga Alkoholfreies Bier (Bir tanpa alkohol).

Ada juga sebuah hal yang unik di Engslicher garten ini, surfing di sungai, LOL! Kegiatan ini bisa kalian lihat di bulan Mei sampai akhir musim panas, tepatnya di Eisbachwelle / Eisbach wave.

Allianz Arena

Siapa sih yang nggak kenal dengan Allianz arena, stadion bola paling ikonik yang berada di Jerman Kebanyakan wisatawan jika sudah ke Munich nggak akan pernah lupa mampir ke Allianz arena. Nggak cuma bisa foto dari luar, tetapi kalian juga bisa membeli tiket tour untuk masuk ke stadion ini. Di dalam tour tersebut, kalian akan dibawa keliling stadion dari tempat ganti baju pemain, area konfersi pers, stadion, dll.


Neuschwanstein Castle

Neuschwanstein Castle
Neuschwanstein Castle

Kalian pasti pernah mendengar dongeng Sleeping Beauty, nah istana di dongeng Sleeping Beauty tersebut terinspirasi dari Neuschwanstein. Istana Neuschwanstein di bangun pada abad ke-19 oleh raja Ludwig II, namun pembangunan istana ini terhenti karena raja Ludwig II meninggal dunia. Di sejarah tertuliskan bahwa sang raja sakit jiwa dan bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di danau. Padahal raja Ludwig II terkenal jago berenang. :O

Bayern Tiket

Hari terakhir di Munich, merupakan hari yang melelahkan, karena kami harus ke Füssen yang memakan waktu perjalanan ± 4 jam pulang-pergi untuk mengunjungi istana Neuschwanstein. Pagi-pagi pukul 09.00 kami sudah berpamitan dengan host couchsurfing kami dan menuju ke Munich Hbf. Cara paling murah untuk sampai ke desa Schwangau dari München adalah menggunakan Bayern tiket. Bayern tiket ini berlaku selama 24 jam dan bisa di gunakan untuk grup sampai dengan lima orang. Dengan Bayern tiket ini, aku dan emak bisa pergi sampai Salzburg – Austria. Jadi bisa bener-bener hemat kan, dengan membayar 31 € kami sudah bisa mengunjungi Neuschwanstein castle yang terletak di Füssen lalu lanjut ke negara tujuan selanjutnya.

Tiket Neuschwanstein Castle

Untuk mengunjungi Neuschwanstein Castle kalian harus benar-benar menyusun waktu perjalanan kalian, karena jika kalian ingin masuk ke istana Neuschwanstein castle tiket harus dipesan jauh-jauh hari. Nggak cuma sampai dengan booking tiket online, tiketnya harus kalian ambil di loket Neuschwanstein castle dengan menunjukan bukti pemesanan tiket. Kalau tiket telat diambil dari batas waktu yang ditentukan, tiket akan hangus dan kalian tetap dikenakan biaya. Bisa nggak sih beli tiket di tempat? Bisa aja sih, tapi antrinya panjang! Kalau kalian nggak mau antri panjang dan banyak orang jangan ambil hari libur nasional atau saat akhir pekan. Kelihatan ribet ya? Sebenernya nggak juga sih, karena waktunya benar-benar bisa kalian perhitungkan. Berikut adalah jadwal hari ketiga aku dan emak;

09:52- 11:55 Sampai Munich Hbf langsung titipkan koper di loker dengan harga 3/ 5€ (tergantung kebutuhan). Kereta dari Munich Hbf ke Füssen berangkat pukul 09:52 dari peron 29 (cek di website DB Bahn karena bisa ada perubahan), pilih yang kereta RE karena lebih cepat (perjalan 2 jam).
12:00- 12.15 Sampai di Füssen naik bus 78 menuju ke desa Schwangau (perjalan 10 menit) – kalian nggak perlu takut salah bus, karena kebanyakan orang dari stasiun Munich juga menuju ke Neuschwanstein.
12:15 – 16:00 Langsung ambil tiket Neuschwanstein jika sudah sampai di desa Schwangau. Tiket tour kami pukul 16:25, pengambilan terakhir pukul 15:25 (tapi bisa diambil lebih awal). Setelah ambil tiket kalian bisa jalan-jalan beli souvenir, mengunjungi Hohenschwangau atau Marienbrucke. Untuk naik ke istana Neischwanstein castle, kalian bisa jalan kaki, naik bus atau naik delman. 😀
16:25 – 17:00 Usahakan 15 menit sebelum waktu tour sudah sampai di halaman istana. Neuschweinstein Castel tour pukul 16:25 (tour selama 30 menit), selanjutnya kalian bisa menimati pemandangan desa Schwangau dari balkon istana Neuschwanstein castle.
18:06 – 20:18 Naik kereta pulang ke Munich dengan kereta RE, jangan lupa ambil koper dan beli makan malam untuk dibawa dalam perjalanan ke Salzbug. Beli yang mudah dibawa dan dimakan, seperti Burger King atau Sandwich.
21:11 – 23.01 Kereta ke Salzburg, peron 8 , nomer kereta : M79443 (mohon di check kembali pada hari H). Sampai Salzburg pukul 23:01, check in hotel dan tidur. 😀

 

Jalan-jalan keliling Eropa, Neuschwanstein Castle, Schwangau, Bayern, Germany
Istana Neuschwanstein, Schwangau, Bayern, Germany

Untuk menikmati pemandangan desa Schwangau dan istana ini, aku sarankan untuk mendaki bukit yang terletak setelah Marienbrucke (Jembatan Marien). Dari sana kalian bisa menikmati pemandangan istana Neuschwanstein dan desa Schwangau yang cantik.

Menurut pendapat aku desa Shangau dan daerah Füssen ini sangat cantik pemandangannya. Kalau kalian mempunyai waktu lebih, kalian bisa menginap sekitar dua hari di desa Schwangau ini. Jadi jadwal tidak akan terlalu padat dan bisa lebih menikmati tentunya.

neuschwanstein castle
view from inside neuschwanstein castle

Setelah seharian berada di Schwangau, kami kembali menuju München untuk melanjutkan perjalanan ke Salzburg, Austria, tempat kelahiran musisi Wolfgang Amadeus Mozart. Perjalanan dari München ke Salzburg memakan waktu 1 jam 40 menit, kami bisa mengunakan bayern tiket yang masih berlaku sampai pukul 03.00. Capek? Iya bener-bener capek, tapi hari selanjutnya aku dan emak bisa jalan-jalan santai di kota Salzburg. 😀

Facebook Comments

Leave a Reply

Show Buttons
Hide Buttons
%d bloggers like this: