Travel Photography

Places

Weekly Journal

jalan-jalan keliling eropa, amsterdam
Musim semi 2017, Amsterdam- Belanda

 

“Mak idul fitri tahun depan aku pulang ya?” tulisku via Whatsapp (read!)
“Nggak usah, emak saja yang menjenguk kamu tahun depan ke Eropa” jawab emak. LOL.

 

Pernah nggak terlintas dipikiran kalian, kalau orang tua kalian juga butuh di ajak jalan-jalan? Ada nggak yang peduli bahwa bukan cuma anak muda saja yang ingin pergi melihat dunia luar?

Emakku punya mimpi, mimpi untuk melihat dunia luar. Sedari kecil beliau selalu menyanyikanku lagu “nenek moyangku”. Emak juga selalu bercerita kepadaku kalau keluarga beliau adalah keluarga perantau. Aku masih ingat bagaimana beliau menceritakan tentang perantauannya menuntut ilmu ke luar pulau jawa, terlihat sekali semasa muda emak mempunyai jiwa petualang yang besar. Dan aku perhatikan semakin beranjaknya usia emak, semangat bertualang beliau semakin menggebu.   Gimana nggak semakin menggebu kalau melihat anak sulungnya sudah seperti kutu loncat yang nggak pernah bisa berhenti jalan. 😀

Sebagai anak, aku sadar diri kalau aku egois banget. Jalan-jalan terus tanpa pernah mengajak emak sama sekali. Maka dari itu, selagi ada kesempatan dan kemampuan, aku putuskan perjalanan tahunan kali ini khusus buat emak, mengundang beliau jalan-jalan keliling Eropa. Bapakku, sebenarnya aku juga ingin mengundang bapakku, namun karena kedua belah pihak tidak bisa digabungkan, terpaksa harus satu-persatu. 🙂


Emak adalah orang pertama yang menyetujui dan mendukungku untuk melanjutkan sekolah di Jerman. Menjadi anak rantau yang terpisah lebih dari ribuan mil tidaklah mudah. Di saat sedang sakit, dilanda masalah dan ketika aku berada di titik terendah, emak selalu ada di belakangku. Belum pernah ada kata absen ketika aku membutuhkan beliau. Terkadang emak berkata, “Pulang saja nak kalau tidak kuat, pulang saja kalau memang terlalu berat”. Namun justru kalimat lunak emak membuatku semakin bangkit untuk melanjutkan perjuangan sebagai anak rantau.

Selain perjalanan ini adalah hadiah untuk emak sebagai ungkapan terimakasihku, aku juga ingin mempunyai quality time dan menggali lebih dalam hubungan batin dengan beliau. Maklum nasib anak rantau, sudah bertahun-tahun jauh dari orangtua. 😀

Apa hubungannya jalan-jalan dengan hubungan batin? Jalan-jalan itu selain bersenang-senang, menurut aku merupakan ajang menguji dan menggali seberapa dalam hubungan kalian. Enggak percaya? Coba deh kalian melakukan perjalanan minimal satu minggu dengan pasangan atau sahabat kalian. Pasti akan langsung kelihatan dimana ketidakcocokan antara kalian berdua. Dan bagaimana kelanjutan hubungan kalian setelah perjalanan tersebut? Bolehlah kalian berunding satu sama lain. LOL.

 

Emakku berusia 52 tahun, usia yang dibilang sudah tidak muda. Namun semangat beliau untuk jalan-jalan keliling Eropa harus diapresiasi. Kondisi emakku Alhamdulillah cukup sehat dan masih kuat beraktivitas, jadi aku pikir inilah saatnya memenuhi mimpi beliau, jalan-jalan keliling Eropa.

Terbayang enggak sih bagaimana mengajak orangtua usia 52 tahun jalan-jalan keliling Eropa? Pastinya tidak semudah mengajak pasangan maupun teman sebaya yang masih kuat jalan. Teman-temanku menyarankan untuk melakukan perjalanan santai, seperti; menginap di hotel berbintang dan me-minimalkan destinasi untuk menghemat tenaga emak. Saran mereka cukup masuk akal, namun karena ini adalah perjalanan untuk emak, jadi beliaulah yang harus memilih.

“Mak, selama 26 hari di Eropa, emak pilih berkunjung ke tiga/empat negara saja dengan jangka waktu panjang dan lebih santai atau keliling ke delapan negara? Tapi Eropa beda dengan Indonesia, harus banyak jalan kaki.” tanyaku ke emak.

Dengan mantap emak menjawab, “mau yang ke delapan negara dong. emak ingin lihat keseluruhan Eropa kalau bisa. Hahaha….”

Aku menanyakan hal ini ke emak berkali-kali dan jawaban beliau masih selalu sama. Maka dari itu terbentuklah rencana perjalanan keliling Eropa selama 26 hari ke 8 negara-13 kota. Rute kami selama 26 hari adalah Berlin 🇩🇪, Prague 🇨🇿, Munich 🇩🇪, Salzburg 🇦🇹, Amsterdam 🇳🇱, Brussel 🇧🇪, Rome 🇮🇹, Verona 🇮🇹, Venice 🇮🇹, Paris 🇫🇷, Luxembourg 🇱🇺, Trier 🇩🇪, Cologne 🇩🇪, Berlin 🇩🇪.

 

Untuk menyusun rencana perjalanan di Eropa menurutku gampang-gampang susah. Tetapi karena kali ini partner jalan adalah orang tua, menyusun perjalanan pun harus ekstra hati-hati dan penuh perhitungan. Yang perlu kalian tahu, perjalanan yang disusun dan direncakanan diawal akan membuat kalian lebih menghemat waktu dan biaya. Untuk keliling Eropa selama 26 hari ke 8 negara 13 kota hari kami menghabiskan dana kurang lebih 2000€/orang, dan perjalanan kami bukan termasuk on budget.

Pertama kali yang harus disiapkan selain visa adalah akomodasi dan transportasi. Memilih penginapan untuk orangtua utamakan bersih, nyaman, lokasi mudah dijangkau dan yang paling diidamkan ibu-ibu adalah ada dapurnya. 😀 Kalian tidak perlu hotel berbintang lima untuk orangtua kalian, emakku justru sempat merasakan pengalaman Couchsurfing di perjalanan ini.

Untuk transportasi keliling Eropa, 60% aku menggunakan pesawat, 30% kereta api dan 10% bus atau mobil. Memilih alat transportasi juga penting, karena aku sangat menghindari emak capek di perjalanan. Mending capek jalan-jalan keliling kota daripada perjalanan antar kota.

Apakah orangtua memerlukan day off selama perjalanan? Jawabannya enggak sama sekali, kurun waktu 26 hari capeknya baru terasa di akhir. Day off menurut aku hanya memberati dana pengeluaran dan tidak menghemat waktu. Yang aku lakukan untuk menggantikan day off adalah mengunjungi kota kecil yang cantik seperti Salzburg! Disana emakku berasa re-charge energi untuk kunjungan ke negara selanjutnya.

Ketika kalian jalan-jalan bersama orangtua, penting untuk mengetahui ritme kondisi mereka. Di sini aku yang agak menyesal, pagi hari hari emakku mempunyai tenaga penuh, namun hanya sampai pukul 17.00. Setelah pukul 17.00 beliau sudah kelelahan, mungkin karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Eropa. Walaupun kami mulai jalan siang hari, pukul 17.00 beliau sudah kelelahan. Emak juga sudah bilang sih, kalau lebih suka mulai jalan di pagi hari, tapi ya itu tadi, aku susah bangun pagi. Hahaha, maafkan aku mak!

Wajib bagi kalian untuk mengetahui kondisi dan kesehatan orang tua sebelum melakukan perjalanan. Jika orang tua kalian masih kuat dan sehat untuk beraktivitas itu bagus, artinya orang tua kalian siap untuk diajak berpetualang. 😀 Di dalam perjalanan, kalian harus menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri mereka. Jangan terlalu memposisikan orang tua kalian sebagai mahkluk lemah yang sudah tidak bisa banyak beraktivitas. Coba lihat di negara maju ini, orang-orang tua usia lanjut masih mandiri dan aktif. Bukan karena mereka keturunan Eropa dan kita keturunan Asia, namun ini dikarenakan mereka tumbuh dengan pola pikir yang positif. 


Aku dan emak itu sebelas-dua belas, kami menyukai hal-hal yang sama, seperti arsitektur bangunan, lukisan dan taman yang dipenuhi bunga-bungaan. Karena itulah perjalanan kami bisa dibilang 90% sangat menyenangkan.

München- Jerman, hari ke-5, 6, 7….

Saat itu sistem transportasi di München sedang mengalami gangguan, banyak kereta yang tidak dioperasikan. Keadaan di stasiun lumayan kacau, banyak manusia lalu lalang berlari dan berebut kereta.

“Berasa mau perang ya…”guman emak melihat banyak orang kebingungan mencari kereta pengganti.

Sebagai pelancong kami pun merasa kebingungan mencari arah jalur kereta. Setelah ketemu jalur kereta pengganti yang tepat, terlihat ratusan orang sudah menunggu berjejal untuk menaiki kereta yang sama.

“Mak, kalau kayak gini caranya, kita harus gesit masuk kereta waktu keretanya datang. Kalau mau nunggu terus, kita nggak bakal kebagian jatah kereta.” kataku kepada emak.

“Oke nak.” jawab emak sigap.

Tiga puluh menit menunggu, akhirnya kereta yang kami nantikan datang. Dan benar saja semua orang berebut untuk masuk duluan ke kereta. Aku dan emak pun berusaha untuk masuk ke dalam gerbong kereta yang penuh sesak. Setelah mendorong emak masuk ke dalam kereta, giliranku melompat ke dalam gerbong tersebut. Namun, “Trakk!!” pintu gerbong kereta yang kami naiki tertutup seketika. Dan sialnya setengah badanku masih berada di luar kereta. “AAAaa, tolong aku kejepit!!” teriakku panik, kereta perlahan mulai beranjak berjalan.

Emak pun tak kalah panik, beliau dengan sigap berusaha menarik setengah badanku ke dalam gerbong kereta. Aku berusaha sekuat tenaga membuka pintu gerbong kereta dan beringsut ke dalam. Sekarang tinggal kaki dan tasku yang masih terjepit di antara pintu. Setelah hampir putus asa, untunglah ada dua polisi jaga yang membantuku membukakan pintu dari luar. :'(

Setelah keadaan genting tersebut berlalu, aku dan emak hanya menghela nafas panjang. Masih terasa kerasnya jepitan pintu gerbong kereta tersebut. Gimana nggak panik, kalau badan setengah masih di luar dan kereta sudah mulai berjalan.

Sesampai stasiun tujuan selanjutnya, kami berjalan menuju pusat kota tua. Tiba-tiba aku merasa ada aliran air dari dalam tasku. “Shit! Kamera!!” Benar saja, setelah aku periksa, kamera DSLR yang aku pinjam dari partner-ku sudah berendam dengan santainya di dalam tasku. 🙁

Aku bergegas mengeluarkan kamera dari kolam renang buatan dan berusaha keras untuk mengeringkannya. Berharap ada keajaiban kamera tersebut baik-baik saja setelah terendam air. Namun terlambat, kamera DSLR tersebut sudah tidak bisa dinyalakan. 🙁

Emak memandangku iba dan berusaha menenangkan kepanikanku, “Yasudah nak, kalau memang rusak nanti kita ganti. Atau ayo kita cari reparasi kamera.” kata emak.

Saat itu juga, kami bergegas ke toko reparasi kamera yang letaknya tidak begitu jauh. Setelah memberikan kamera tersebut kepada salah seorang teknisi, aku hanya bisa pasrah menunggu hasil.

“Nampaknya komponen di dalam kamera ini sudah rusak, airnya sudah masuk ke komponen dalam.” kata teknisi tersebut sambil memberikan kameraku kembali.

“Memang nggak bisa kalian buka dan keringkan di dalamnya ya?” tanyaku setengah nggak percaya. Teknisi tersebut hanya menggelengkan kepala.

“Ayolah, tolong usahakan buka badan kamera ini dan keringkan dalamnya sedikit.” pintaku setengah memaksa.

“Baiklah, namun jangan berharap banyak.” jawab teknisi tersebut. Beberapa menit kemudian teknisi tersebut membawa kameraku kembali, “ sudah semaksimal mungkin kami keringkan dalamnya.”

“Berapa harga untuk mengganti komponen yang rusak di dalamnya?” tanyaku dengan penuh harap.

“Hmm, lebih baik kamu membeli yang baru, karena harga komponen dalamnya lebih mahal daripada membeli kamera yang baru” jelas teknisi dengan nada menyerah.

“DUER!!!” aku pun beranjak meninggalkan tempat reparasi kamera tersebut dengan keadaan lunglai dan bingung.


“Nak, ayo kita mau kemana lagi?” tanya emak memecahkan lamunanku.

Damn, aku sampai lupa kalau aku sedang mengajak emak jalan-jalan, ke Englischer Garten ma.” jawabku masih dengan nada loyo.

“Sudahlah nak,relakan saja, nanti kita ganti.” kata emak.

“Tapi kamera mahal ma, aku harus bilang apa dong ke Fer?” tanyaku balik hampir menangis.

“ Kamunya harus cerdas ngomongnya, sini emak kasih tau cara ngomong ke laki gimana.” kata emak sambil memulai membisikkan tip dan trik untung mengakhiri kegalauanku,” bla bla bla blablaa…

Hahaha, seketika itu aku melihat wanita setengah baya disampingku ini bukan hanya sebagai emakku, namun juga sahabatku. Aku belum pernah merasa sedekat ini dengan beliau. Memang benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Dan ajang jalan-jalan keliling eropa memang banyak manfaatnya bagi hubungan kami berdua.

Setelah lepas dari bad mood seharian, kami melanjutkan jalan-jalan kami. Kami mengunjungi Hofbrauhaus restoran atau lebih dikenal sebagai beer hall, dimana Adolf Hitler memberikan pidato di depan khalayak banyak pada 19 Februari 1920. Emakku sangat menyukai sejarah negara Jerman di masa pemerintahan nazi. Kalau kalian ke München dan menyukai sejarah pemerintahan nazi jangan lupa untuk mengunjungi Kamp konsentrasi yang berada di Dachau.

Setelah puas menikmati suasana kota München tujuan paling wajib yang ingin dikunjungi emak adalah Alianz arena. Entah mengapa di sanalah emak bahagia 100%, padahal setahuku emak bukan penggemar sepak bola. LOL

Di München banyak sekali yang bisa di kunjungi, waktu yang di butuhkan untuk mengunjungi kota München dan wilayah Bayern menurutku minimal lima hari. Hari terakhir kami mengunjungi istana Neuschwanstein. Achtung! Jika kalian ingin masuk ke istana ini ada baiknya kalian membeli tiket masuk jauh-jauh hari sebelumnya. Istana Neuschwanstein terletak di desa Schwangau daerah Füssen, di barat daya daerah Bayern. Cara paling murah untuk sampai ke desa Schwangau dari München adalah menggunakan Bayern tiket. Bayern tiket ini berlaku selama 24 jam dan bisa di gunakan untuk grup sampai dengan lima orang.

Kalian pasti pernah mendengar dongeng Sleeping Beauty, nah istana di dongeng Sleeping Beauty tersebut terinspirasi dari Neuschwanstein. Istana Neuschwanstein di bangun pada abad ke-19 oleh raja Ludwig II, namun pembangunan istana ini terhenti karena raja Ludwig II meninggal dunia. Di sejarah tertuliskan bahwa sang raja sakit jiwa dan bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di danau.

Jalan-jalan keliling Eropa, Neuschwanstein Castle, Schwangau, Bayern, Germany
Istana Neuschwanstein, Schwangau, Bayern, Germany

Untuk menikmati pemandangan desa Schwangau dan istana ini, kalian wajib mendaki bukit yang terletak di dekat Marienbrucke (Jembatan Marien). Dari sana kalian bisa menikmati pemandangan istana Neuschwanstein dan desa Schwangau yang cantik.

jalan-jalan kliling Eropa Neuschwanstein, Schwangau
Pemandangan desa Schwangau dari dalam Kastil Neuschwanstein

Setelah seharian berada di Schwangau, kami kembali menuju kota München dan melanjutkan perjalanan kami ke Salzburg, Austria, tempat kelahiran musisi Wolfgang Amadeus Mozart. Untuk melanjutkan perjalanan ke kota Salzburg, kami bisa mengunakan bayern tiket yang masih valid sampai pukul 03.00.

Fuih!!! Lelah sudah pasti, namun hari terakhir di München sangat menyenangkan. Emak juga nampak sudah kehabisan tenaga karena harus mendaki bukit yang lumayan terjal. LOL. Tapi siapa sangka beliau justru lebih ahli dalam hal pendakian. 😀

 

Ada perasaan bahagia dan kepuasan tersendiri setelah mengajak emak jalan-jalan keliling Eropa. Hubungan kontak batin kami jadi lebih dekat, kami banyak ngobrol tentang hal-hal yang selama ini belum pernah kami bicarakan, selain itu emak juga banyak bercerita tentang masa lalunya. Yang paling penting, aku sudah berhasil memperlihatkan kepada beliau kehidupanku di sini secara langsung, notabene kehidupan di Indonesia dan Eropa sangatlah jauh berbeda.

Tidak ada yang disesalkan mengajak orangtua kita jalan-jalan. Coba kita ingat semasa kecil pasti kita sering merengek di ajak jalan-jalan setiap akhir pekan atau musim liburan. Nah gantian dong, kalau kalian sudah mampu, berusahalah untuk membahagiakan kedua orang tua kalian sebagaimana mereka membahagiakan kalian sewaktu kecil.

Masih teringat ucapan emak sewaktu di Eropa, “Wah kasihan ya hidup kebanyakan orang Indonesia. Kerja cuma buat bayar tagihan dan cicilan. Emak juga mau mulai nabung buat jalan-jalan ah. Dua tahun lagi kita jalan-jalan bareng lagi ya? Emak ingin ke Australia pakai mobil camper van.” LOL.

Nah kali ini siapa yang kena virus traveling? Memang dengan traveling banyak sekali pengalaman yang bisa kita dapat. Dan psst… traveling itu virus! Virus yang bikin kecanduan.

Mau baca cerita lebih detail lagi tentang perjalananku dan emak keliling Eropa, kalian bisa subscribe atau follow blog ini. Aku bakal ulas tentang dari detail pembuatan visa, rincian harga perjalanan kami dan cerita kota/negara yang kami kunjungi. 😀

Facebook Comments
Show Buttons
Hide Buttons